stitbima.ac.id, 28 Oktober 2026 – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 jatuh pada Rabu, 28 Oktober 2026, dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tema itu datang bersama data ketenagakerjaan yang tidak seragam. Tingkat pengangguran terbuka nasional pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, terendah sejak 1994. Namun pada kelompok usia 15–24 tahun angkanya 17,37 persen, naik dari 16,36 persen pada Februari 2026. pojoksatu.id
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut kondisi ini paradoks. Pengangguran muda tinggi, tetapi 48 persen perusahaan mengaku sulit mendapat tenaga kerja dengan kompetensi memadai. Pekerja informal juga masih 56,54 persen dari seluruh pekerja. Pada Februari 2026, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi di antara semua jenjang pendidikan, yaitu 7,74 persen. Di luar angka pengangguran, BPS mencatat 19,44 persen anak muda berada di luar sekolah, pekerjaan, dan pelatihan pada akhir 2025. Jumlah itu mendekati satu dari lima anak muda. Antaranews.com
Angka-angka tersebut lebih banyak bicara soal kecocokan daripada jumlah lowongan. Kemnaker kini mengarahkan pelatihan vokasi agar berbasis kebutuhan industri, bukan sekadar menambah lulusan. Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Hempri Suyatna, menambahkan satu sisi lain. Menurut dia, rendahnya minat anak muda masuk sektor informal ikut membesarkan pengangguran usia muda, padahal sektor itu justru menyerap pekerja. Persoalannya ada pada keterampilan dan pada cara anak muda memandang pekerjaan.
Tiga kata dalam tema tahun ini bisa dibaca dengan angka-angka itu. Patriotik berarti membawa keahlian yang dibutuhkan daerah, tidak berhenti pada seremoni bendera. Gigih berarti bersedia belajar keterampilan baru dan merintis usaha kecil ketika pasar kerja sempit. Berempati berarti memperhatikan sebaya yang tertinggal, terutama mereka yang tidak sedang sekolah, bekerja, atau berlatih. Kemenpora memakai metafora “Besi yang Menjadi Cahaya” untuk logo tahun ini, tentang kebangsaan yang ditempa waktu dan sejarah.
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II di Batavia pada 1928, yang mempertemukan organisasi pemuda berbasis daerah dan agama. Jong Java mewadahi pelajar Jawa, Jong Sumatranen Bond pelajar perantauan Sumatra, dan Jong Islamieten Bond pemuda terpelajar muslim. Latar mereka berbeda, tetapi mereka sepakat berbagi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Dua tahun menjelang seratus tahun peristiwa itu, ukuran kesetiaan pada sumpah tersebut bergeser. Pertanyaannya sekarang apakah pemuda dari latar yang berbeda bisa bekerja, berwirausaha, dan saling menopang di tengah ekonomi yang belum merata.
Bagi STIT Sunan Giri Bima, pertanyaan itu menyangkut tugas kampus secara langsung. Visi institusi, “Menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang profesional, berdaya saing, moderat, mandiri dan berkarakter”, memuat jawabannya. Profesional dan berdaya saing berarti menutup jarak antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Moderat berarti menjaga persatuan lintas perbedaan sebagaimana pemuda 1928. Mandiri berarti menyiapkan mahasiswa menciptakan pekerjaan, tidak hanya mencarinya. Berkarakter berarti menumbuhkan sikap patriotik, gigih, dan berempati yang menjadi tema peringatan tahun ini.


