Beragam kreativitas yang di produksi oleh mahasiswa STIT-Bima terpajang di galeri UKM Laskar Bima Craft (LBC)

STIT Sunan Giri Bima merupakan salah satu kampus Islam swasta yang telah berdiri sejak tahun 1972. Berlokasi di Jalan Sukun Karara No. 2, Kelurahan Monggonao, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, kampus ini terus berupaya mengembangkan diri baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Namun, perjalanan STIT tidak selalu mulus. Pada periode 2015–2017, kampus ini mengalami masa-masa sulit, dengan jumlah mahasiswa yang sangat minim hingga muncul wacana penutupan kampus. Saat itu, pesimisme menyelimuti banyak pihak, termasuk para pimpinan kampus.

Di tengah keterpurukan tersebut, beberapa dosen tetap optimis dan berusaha membangkitkan kembali semangat akademik di STIT. Harapan itu mulai tumbuh ketika kampus ini mendapatkan kepemimpinan baru. Sejak tahun 2018, STIT mulai bertransformasi menjadi kampus Islam swasta yang mengusung konsep entrepreneurship. Hal ini menjadi respons terhadap rendahnya minat masyarakat untuk mengkuliahkan anak-anak mereka di kampus berbasis agama. STIT pun berupaya memberikan solusi melalui berbagai inovasi, termasuk melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Laskar Bima Craft (LBC) di bawah pembinaan Hermawansyah, M.Pd.I.

Sebenarnya, LBC telah terbentuk sejak tahun 2016 di bawah kepemimpinan Syafrudin (Ucok) dengan 14 anggota aktif. Namun, bencana banjir bandang pada 21–23 Desember 2016 meluluhlantakkan Kota Bima, mengakibatkan LBC kehilangan seluruh peralatan dan bahan yang digunakan untuk kreativitas serta sosialisasi kampus. Akibatnya, program ini sempat terhenti dan harapan untuk mempertahankan STIT melalui LBC seolah musnah.

Tahun 2018 menjadi era baru bagi STIT, layaknya ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Kampus ini mulai menjalankan program inovatif, seperti asrama gratis dan pendidikan Islam berbasis entrepreneurship, yang berhasil mengubah sudut pandang masyarakat. Hasilnya, jumlah mahasiswa angkatan 2018 meningkat signifikan hingga mencapai 80 orang untuk program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Kehadiran kembali LBC menjadi angin segar yang menghidupkan harapan bagi mahasiswa dan lingkungan sekitar.

Beberapa hasil kreativitas mahasiswa STIT Sunan Giri Bima–sofa mini dan lukisan kaligrafi

LBC bukan hanya sekadar organisasi mahasiswa, tetapi juga wadah pembinaan keterampilan bagi mahasiswa PAI dan PGMI agar mereka mampu bersaing dengan lulusan dari kampus lain. Di era yang semakin kompetitif, di mana dunia kerja lebih menuntut keterampilan praktis, LBC hadir sebagai solusi dengan membekali mahasiswa berbagai skill yang relevan. Program pelatihan yang ditawarkan LBC meliputi khutbah, ceramah, dan tausiyah keagamaan; anyaman (tas tali kur, sandal); seni melukis dan kaligrafi (baik di kertas maupun bangunan); sablon dan menjahit; pembuatan lampu tidur; aneka suvenir (gantungan kunci, kotak pensil, bolpoin, plakat); tata boga (kue, keripik pisang, gadung, dan lainnya); membatik (batik tangan, ecotik, ecoprint, dan lainnya); desain grafis; editing video dan film; kepenulisan baik fiksi maupun nonfiksi; pembuatan aplikasi pembelajaran; hingga pembuatan kursi dan sofa.

Melalui berbagai program tersebut, LBC bertujuan untuk menciptakan lulusan yang siap bekerja atau bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Di tengah fenomena maraknya PHK massal dan sulitnya mencari pekerjaan, LBC hadir sebagai solusi yang memungkinkan mahasiswa STIT menjadi tenaga kerja mandiri yang tidak bergantung pada sektor formal. Dengan keterampilan yang mereka peroleh, para alumni diharapkan dapat mengembangkan usaha sendiri dan berkontribusi bagi perekonomian, khususnya di daerah Bima dan Dompu.

Visi masa depan STIT dan LBC sangat jelas: membentuk generasi yang mandiri, inovatif, dan siap menghadapi tantangan zaman. Kampus ini tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik semata, tetapi juga menyiapkan mahasiswa dengan keterampilan praktis yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat. Dengan semangat kebangkitan yang terus dijaga, STIT Sunan Giri Bima kini berada pada jalur transformasi menuju pusat inovasi dan kewirausahaan yang berbasis nilai-nilai Islam.