Kota Bima-stitbima.ac.id, Laskar Bima Craft (LBC) kembali menggelar sesi bedah buku dalam rangkaian Interdisciplinary Discussion Series sebagai upaya memperkuat tradisi literasi dan daya kritis anggotanya. Kegiatan yang dihelat pada Senin malam, 20 April 2026, di Aula STIT Sunan Giri Bima ini membahas buku “Menembus Relung Pengingatku” karya Hersan’S.
Program Interdisciplinary Discussion Series merupakan gagasan Bidang SDM dan Keorganisasian UKM Laskar Bima Craft yang telah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Agenda ini dirancang sebagai ruang belajar internal untuk mengedukasi sekaligus membangkitkan semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan anggota LBC. Sesi diskusi digelar secara rutin satu hingga dua kali setiap pekan, tepat setelah salat Isya, sehingga dapat menyatu dengan ritme keseharian mahasiswa.
Pada part kedua sebelumnya, peserta telah membedah buku bertajuk “Cinta Tak Bersyarat” karya Devi Ratnasari. Keberlanjutan agenda ini menunjukkan keseriusan LBC dalam menjadikan literasi sebagai tradisi, bukan sekadar acara sesaat.
Dalam part ketiga ini, Samsiah selaku Ketua Bidang SDM dan Keorganisasian kembali menggagas bedah buku, kali ini dengan fokus pada karya “Menembus Relung Pengingatku” tulisan Hersan’S. Tiga pembedah yang seluruhnya merupakan mahasiswa semester akhir; Marjan, Antika, dan Fiska, didapuk untuk mengulas isi buku dari berbagai sudut pandang. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa mahasiswa tingkat akhir pun tetap didorong aktif mengasah nalar kritis melalui forum ilmiah seperti meski sibuk dengan tugas akhir.
Marjan sebagai pembedah pertama mengawali paparan dengan mengulas latar belakang kemunculan buku ini. Ia menjelaskan bahwa penulis memiliki latar interdisipliner sehingga wajar bila isi buku tersusun dalam potongan-potongan cerita dengan tokoh dan pengalaman yang berbeda di setiap subbab. Beragam kisah yang diangkat, mulai dari isu-isu global hingga kehidupan di asrama STIT Sunan Giri Bima, membuat buku ini terasa dekat dengan realitas pembaca.
Pembedah berikutnya, Antika dan Fiska, mengajak peserta menyelami lebih jauh tiap subbab yang dinilai paling menarik dan relevan. Mereka menyoroti bagaimana pengalaman-pengalaman kecil yang ditulis penulis justru mampu memantik refleksi mendalam tentang kehidupan sehari-hari. Keterkaitan antara isi buku dan realitas yang dihadapi mahasiswa membuat diskusi berkembang dinamis dan tidak hanya berhenti pada tataran naskah saja.
Sejak sesi diskusi dibuka, para peserta aktif menyampaikan pertanyaan, tanggapan, hingga kritik yang konstruktif. Di bawah panduan Nurul Hasnah sebagai moderator, alur dialog tetap terjaga kondusif dan terarah. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pembina asrama, dosen, serta mahasiswa, sehingga ruang diskusi menjadi wadah interaksi lintas peran di lingkungan STIT Sunan Giri Bima.
Menariknya, buku-buku yang dibedah dalam rangkaian kegiatan ini merupakan karya punggawa LBC sendiri, sehingga forum tidak hanya mengapresiasi penulis luar, tetapi juga merayakan produktivitas anggota. Hal ini diharapkan dapat memicu lahirnya lebih banyak penulis muda dari lingkungan kampus.
LBC STIT Sunan Giri Bima menegaskan komitmennya bahwa melalui kegiatan seperti Interdisciplinary Discussion Series, kebiasaan membaca, menulis, dan diskusi dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Diskusi bedah buku menjadi bagian dari upaya kolektif menanamkan kesadaran akan pentingnya literasi di setiap pribadi anggota, sehingga budaya ilmiah dan kritis dapat terus hidup dalam organisasi maupun kehidupan akademik mereka.
