Kota Bima, 26 April 2026 – Di ufuk timur Pulau Sumbawa, ketika cahaya matahari merambat perlahan menyentuh tanah yang sarat sejarah dan adat, Kota Bima kembali berdenyut dalam irama yang berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk kota biasa, melainkan gema kebudayaan yang bangkit, mengalir dari masa silam menuju masa kini, lalu bersemi dalam satu perayaan yang begitu memikat: Festival Rimpu Ma Ntika. Sebuah peristiwa tahunan yang bukan hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga ruang pengingat bahwa jati diri suatu bangsa kerap tersimpan dalam helai kain, dalam cara berpakaian, dan dalam nilai yang dijunjung oleh masyarakatnya.

Di tengah lautan manusia yang memenuhi setiap sudut kota, semangat itu terasa begitu hidup. Puluhan ribu masyarakat berbondong-bondong datang, menyatu dalam satu tujuan yang sama, merayakan warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman. Wajah-wajah penuh antusias tampak di mana-mana, mata yang berbinar memantulkan rasa bangga, dan langkah-langkah yang ringan seolah digerakkan oleh energi kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di antara kerumunan itu, kami, Squad STIT Sunan Giri Bima, ikut hadir, larut dalam suasana, merasakan denyut kebudayaan yang seolah berbicara langsung kepada jiwa.

Festival ini bukan sekadar perayaan biasa. Ia adalah panggung besar tempat sejarah dipanggil kembali, diperlihatkan, dan dipersembahkan kepada generasi masa kini. Di sana, rimpu tidak hanya dikenakan, tetapi dihidupkan kembali sebagai simbol yang sarat makna. Setiap helai kain yang membungkus tubuh para perempuan Bima bukanlah sekadar penutup fisik, melainkan perwujudan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Rimpu, dalam kesederhanaannya, menyimpan keagungan yang tak terukur. Ia lahir dari perjumpaan dua dunia, tradisi lokal orang Bima (Dou Mbojo) dan ajaran Islam yang datang membawa cahaya. Sejak abad ke-17, ketika Islam mulai mengakar di Kesultanan Bima, rimpu hadir sebagai jawaban atas kebutuhan untuk menjaga kehormatan, menutup aurat, dan tetap mempertahankan identitas budaya. Dari sanalah, rimpu tumbuh, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan, tetapi sebagai bentuk harmoni antara keyakinan dan kebudayaan.

Dua lembar sarung, yang dikenal sebagai tembe nggoli, menjadi elemen utama dalam tradisi ini. Dengan cara yang khas, kain itu dililitkan, menutupi kepala hingga tubuh, menyisakan hanya wajah sebagai jendela ekspresi. Dalam balutan sederhana itu, tersembunyi filosofi yang mendalam, tentang kesopanan, tentang harga diri, dan tentang bagaimana seorang perempuan menjaga martabatnya di hadapan dunia.

Di tengah festival, pemandangan itu begitu memukau. Ribuan perempuan mengenakan rimpu dengan berbagai corak dan warna, berjalan dengan anggun seolah menjadi bagian dari lukisan hidup yang bergerak perlahan di atas kanvas kota. Setiap langkah mereka seakan mengisahkan cerita panjang tentang perjalanan budaya yang tak pernah berhenti. Angin yang berhembus pelan turut memainkan kain-kain itu, menciptakan tarian lembut yang memanjakan mata siapa pun yang menyaksikannya.

Bagi masyarakat Bima, rimpu bukan sekadar pakaian. Ia adalah identitas. Ia adalah penanda kedewasaan. Ia adalah simbol bahwa seorang perempuan telah memahami nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh lingkungannya. Dalam rimpu, terdapat pesan bahwa keindahan tidak selalu harus dipertontonkan secara terbuka. Justru dalam keterbatasan itulah, keanggunan menemukan maknanya yang sejati.

Seiring waktu, rimpu mengalami perjalanan yang panjang. Dahulu, ia hanya dikenakan oleh kalangan tertentu, para perempuan bangsawan yang hidup dalam lingkaran istana. Namun, seiring perubahan zaman, rimpu keluar dari batas-batas itu, menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ia menjadi milik bersama, dipakai oleh perempuan tua maupun muda, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan.

Festival Rimpu Ma Ntika menjadi bukti bahwa tradisi ini tidak pernah benar-benar pudar. Justru di era modern yang serba cepat, rimpu menemukan kembali momentumnya. Ia hadir sebagai pengingat bahwa di tengah arus globalisasi yang begitu kuat, ada nilai-nilai lokal yang tetap harus dijaga. Ada identitas yang tidak boleh hilang, meskipun dunia terus berubah.

Kami yang hadir di sana merasakan betul bagaimana kekuatan budaya mampu menyatukan banyak orang. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang berarti. Semua larut dalam satu rasa, rasa bangga menjadi bagian dari warisan yang begitu kaya. Suara tawa, sorak sorai, dan gemuruh langkah kaki menjadi satu kesatuan yang harmonis, menciptakan suasana yang sulit dilupakan.

Di setiap sudut kota, rimpu menjadi pusat perhatian. Anak-anak kecil memandang dengan kagum, para remaja mengenakannya dengan penuh percaya diri, dan para orang tua melihatnya dengan mata yang sarat kenangan. Seolah-olah, dalam satu waktu, masa lalu, masa kini, dan masa depan bertemu dalam satu titik yang sama.

Lebih dari itu, festival ini juga menjadi ruang refleksi. Ia mengajak kita untuk bertanya, sejauh mana kita mengenal budaya kita sendiri? Seberapa besar usaha kita untuk melestarikannya? Dan apakah kita benar-benar menyadari nilai yang terkandung di dalamnya?

Bagi kami, pengalaman ini bukan sekadar menghadiri sebuah acara. Ia adalah perjalanan batin. Ia adalah pengingat bahwa di balik kesibukan hidup modern, ada akar budaya yang harus tetap dijaga. Ada nilai-nilai yang tidak boleh dilupakan, karena di sanalah identitas kita bermula.

Festival Rimpu Mantika 2026 telah menjadi saksi bahwa budaya Bima masih berdiri kokoh. Ia tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang, menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati dirinya. Dalam setiap helai rimpu, terdapat cerita yang terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan ketika langkah kami meninggalkan keramaian itu, ada satu hal yang tetap tinggal, rasa bangga. Bangga menjadi bagian dari tanah yang memiliki warisan begitu indah. Bangga melihat bagaimana budaya mampu menyatukan begitu banyak orang. Dan bangga karena di tengah dunia yang terus berubah, rimpu tetap ada, tetap hidup, dan tetap menjadi simbol keanggunan perempuan Bima.

Begitulah, di antara gemerlap festival dan riuhnya keramaian, rimpu tidak hanya menjadi pakaian. Ia menjelma menjadi cerita, menjadi identitas, dan menjadi bukti bahwa budaya, jika dijaga dengan sepenuh hati, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.