STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Pengajian perdana bulan Ramadhan ini dimulai pada halaman 51 yang membahas tentang “khawathir haula suratil kahfi. Khawatir artinya apa yang terlintas di dalam hati “Renungan mengenai surat al-Kahfi”. Surat al-Kahfi sendiri adalah surat yang ke 18 yang sebagian ayatnya berada di juz ke 15 dan sebagian yang lain berada di juz ke 16. Kalau dipakai piramida, maka surat al-Kahfi itu berada dipuncak. Sebelumnya surat al-Isra’ kemudian surat al-Kahfi. Di tengah-tengah surat al-Kahfi yang menjadi puncak al-Qur’an ditulis “wal Yatalatthof”, itulah menjadi yang tertinggi, kemudian turun.

Dalam surat al-Kahfi, terdapat beberapa kisah yang sulit dinalar oleh manusia normal di antaranya;

Pertama, kisah Ashabul Kahfi, penghuni gua, jumlahnya ada yang mengatakan 8 orang dan ada yang mengatakan 7 orang. Hal yang mengagumkan adalah mereka hidup selama 309 tahun .

Kedua, kisah Nabi Musa dan Nabi khidir, juga kisah nabi Musa dengan Ghulam, pembantunya, Yusa’ bin Nun.

Ketiga, kisah Dzulkarnain, kalau diartikan saat ini, dua tanduk. Sosok Dzulkarnain yang dikisahkan dalam surat al-Kahfi ini banyak menimbulkan tanda tanya, masih misterius. Apakah nama sebenarnya atau hanya kiasan, sosok riil atau imajiner.

Mufassir, pada umumnya, mengatakan bahwa Dzulkarnain adalah tokoh riil yang diperkirakan (masih tafsiran) bernama Iskandar Dzulkarnai atau dalam bahasa Inggris Alexander the Great yang diabadikan dengan nama sebuah kota di Mesir, kota Aleksandria, dalam bahasa Arab menjadi Iskandariyah. Seorang tokoh legendaris penakluk dunia. Usianya sangat pendek, 33 tahun hampir sama dengan usia Nabi Isa As.

Dalam beberapa studi yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu, misalnya Ibnu Kathir dalam kitabnya yang berjudul al-Bidayah wan Nihayah, tidak dijelaskan seara rinci siapa sebenarnya sosok Zulkarnain. Studi lain yang dilakukan oleh seorang Yahudi Inggris bernama Simon Sebag Montefiore dalam bukunya “Yerussalem: The Biografi” menjelaskan bahwa Dzulkarnain yang dimaksud adalah orang Yunani dari Macedonia yang pernah menaklukkan wilayah Afrika Utara, Asia hingga daratan China.

Studi berikutnya dilakukan oleh orang Syria berkulit hitam yang bernama Syauqi Abu Khalil dalam bukunya “Athlasul Anbiya’ war Rusul, Atlas para Nabi dan Rasul”. Isinya tidak terlalu berbeda dengan Simon Sebag yang menegaskan Dzulkarnain berasal dari Yunani (Macedonia) yang dalam bahasa Arab disebut al-Iskandar al-Maqduni terjemahan dari Macedonia, hidup sekitar abad ke 5 atau 6 sebelum Masehi dan pernah menaklukan Yerussalem.

Studi terakhir dilakukan oleh orang Arab Saudi namanya Hamdi bin Hamzah Abu Zaid, judulnya “Fakku Asrari Dzilkarnain wa Ya’juj wa Ma’juj”. Dalam edisi terjemahan Indonesia diberi judul “Mengungkap misteri perjalanan Dzulkarain ke Cina; Munculnya Ya’juj dan Ma’juj di Asia”. Studi ini menarik karena menurut Hamdi bin Hamzah bahwa Dzulkarnain yang disebut dalam Qs. al-Kahfi itu adalah Fir’aun yang bernama Akhtanun. Firaun merupakan gelar dari raja-raja Mesir. Dan ternyata Firaun itu tidak semua jelek tapi ada juga Fir’aun yang baik.

Fir’aun yang bernama Dzulkarnain dalam kaca mata Hamdi bin Hamzah adalah pembela Nabi Musa ketika Nabi Musa mau dibunuh oleh Fir’aun. Keterangan ini terdapat dalam al-Qur’an tapi tidak disebut siapa nama pembela Nabi Musa tersebut. Jadi Fir’aun yang mengangkat anak Nabi Musa As namanya Ramses II, sedangkan Fir’aun yang mengejar Nabi Musa hingga ke laut merah adalah anaknya Ramses II, kemudian yang membela Nabi Musa dihadapan Ramses II dan anaknya adalah Akhtanun. Dan Akhtanun inilah yang menjadi raja Fir’aun berikutnya yang menggantikan raja Fir’aun yang meninggal di laut merah. Peristiwa itu terjadi pada 130 tahun sebelum masehi (1370 – 1352 SM).

Menurut penelitian Hamdi Hamzah, Akhtanun adalah seorang mukmin dan memiliki isteri bernama Nefertiti. Ketika menjadi raja Fir’aun, ia melakukan penaklukan-penaklukan hingga ke dataran Cina.

Hal yang menarik dalam penjelasan kajian Hamdi Hamzah adalah ketika Dzulkarnain ini berada di Cina, ia membangun sebuah kerajaan dan memerintah selama 800 tahun. Sementara kerajaan di Mesir diteruskan oleh Firaun berikutnya. Dalam studi itu juga dijelaskan bahwa Dzulkarnain membangun tembok Cina sebagai pertahanan untuk melindungi mereka dari permusuhan dan serangan Ya’juj dan Ma’juj. Untuk lebih detailnya informasi tentang siapa sosok Dzulkarnain ini, dapat dilacak secara utuh dari hasil kajian Hamdi Hamzah tersebut.

Sementara Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi dalam kitab Mu’jizat al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci siapa sosok Iskandar Dzulkarnain yang dimaksud dalam Qs. al-Kahfi tersebut dan bagaimana ketokohannya. Syaikh al-Sya’rawi hanya fokus mengkaji ajarannya.

Alasan Syaikh Sya’rawi tidak merinci sosok Dzulkarnain, karena menurutnya, penokohan itu kadang-kadang dapat mereduksi tujuan yang dikehendaki dari al-Qur’an. Jika kita berupaya untuk menentukan siapa sebetulnya Ashabul Kahfi, siapa sebetulnya Firaun yang berhubungan dengan Nabi Musa, siapa sebenarnya Qarun, dan tokoh-tokoh lain yang disebutkan dalam al-Qur’an, maka sebetulnya kita menutupi kebenaran yang dimana Allah berkehendak untuk memperkenalkannya karena tokoh-tokoh tersebut berulang-ulang dalam setiap waktu dan tempat. Jadi yang menjadi konsens Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi dalam kajian ini adalah adalah ajarannya atau inti daripada kisah itu sendiri.

Ketika Allah membuat perumpamaan pada orang-orang kafir, di antaranya isterinya Nabi Nuh dan Nabi Luth. Dalam al-Qur’an perempuan yang tidak cocok dengan suaminya maka menggunakan kata Imroatan tapi kalau cocok dengan suaminya maka menggunakan kata Zauj. Dalam al-Qur’an tidak ada penggunaan kata zaujah, misalnya ketika membicarakan Nabi Adam dengan isterinya Hawa, maka kata yang dipakai adalah zauj yang berarti pasangan, “Anta wa Zaujuka”, engkau dan pasanganmu.

Ketika Allah membuat perumpamaan isteri Fir’aun, maka yang dimaksud adalah semua wanita mu’minah yang suaminya kafir. Problem seperti ini berulang-ulang setiap zaman. Dan peristiwa satu-satunya yang tidak akan pernah berulang adalah peristiwa siti Maryam putri Imran, karena tidak akan ada wanita lain yang memiliki anak (Isa putra Maryam) tanpa suami kecuali Maryam. Jika saat ini ada wanita memiliki anak, maka dapat dipastikan ada laki-lakinya.

Dengan demikian, penokohan dalam al-Qur’an, bukan berarti berakhirnya peristiwa dari tokoh itu. Dari sini, ketika kita berbicara tentang Dzulkarnain, (dalam al-Qur’an tidak ada Iskandarnya hanya Dzulkarnain) maka kita berbicara tentang seorang tokoh. Allah Swt. memberi kekuatan padanya untuk menguasai segala sesuatu dan Allah Swt. memberikan hukum kausalitas pada dirinya.

Untuk memperjelas pembahasan Dzulkarnain ini, Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi mengutip Qs. al-Kahfi: 90 yang berbunyi;

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَطۡلِعَ ٱلشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَطۡلُعُ عَلَىٰ قَوۡمٖ لَّمۡ نَجۡعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتۡرٗا
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
Dalam ayat ini tidak dijelaskan secara detail kecuali penjelasan bahwa Dzulkarnain itu telah sampai ke tempat terbit matahari pada suatu kaum dimana Allah tidak memberi tutup antara kaum itu dengan matahari. (Sinar matahari langsung menyinari kaum tersebut).
Yang perlu direnungkan adalah maksud dari kalimat “Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari”.
Potongan ayat ini dapat memunculkan banyak pertanyaan, di antaranya bahwa tanah itu tidak ada apa-apanya (seperti sahara), atau memang tidak ada pepohonan yang menutupi manusia dari sinar matahari, atau komunitas bangsa itu tidak memiliki rumah sebagai tempat berlindung dari sinar matahari, atau komunitas itu telanjang semua sehingga sinar matahari langsung menyengat tubuhnya.
Potongan ayat di atas juga dapat menimbulkan pertanyaan tentang kondisi apa yang membuat matahari itu tidak bercahaya sehingga engkau tidak menemukan cahaya matahari?. Sesungguhnya yang bisa seperti itu adalah kegelapan. Yang bisa membuat sinar matahari itu tidak ada adalah malam hari. Maka engkau tidak akan menemukan sinar matahari di tempat mana pun engkau berada dan dalam kondisi bagaimana pun, walaupun engkau naik ke tempat yang paling tinggi, engkau tidak akan menemukan matahari karena tertutup oleh kegelapan malam.
Ketika Dzulkarnain sampai ke komunitas itu, kondisinya gelap terus. Ini berarti bahwa di tempat itu kondisinya malam terus karena tidak menemukan matahari. Kalau kita padu keterangan di atas, maka berdasarkan informasi modern bahwa yang mengalami malam terus menerus selama 6 bulan dan siang terus menerus selama 6 bulan adalah wilayah kutub (kutub utara dan kutub selatan).
Kemudian ketika Dzulkarnain sampai di dua bendungan, di dalamnya ada komunitas Ya’’juj dan Ma’juj, bangsa yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Di Mana itu?. Para ahli berbeda pendapat. Menurut Hamdi Hamzah bahwa dua bendungan itu terdapat di Cina. Wilayah tersebut kemudian ditutup oleh Dzulkarnain dengan membangun tembok raksasa yang saat ini dikenal dengan tembok China. Tembok Cina ini dibangun oleh Dzulkarnain dengan menggunakan teknologi cor, tapi menggunakan baja yang dibakar, akhirnya tempatnya itu tertutup semua. Hal ini disebutkan juga dalam al-Qur’an.
Tetapi menurut Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi bahwa Cina itu bukan kutub, barangkali kutub itu berada di wilayah Rusia. Jadi masalah ini masih menjadi misteri, masih dapat dilakukan pencarian-pencarian mana sebetulnya yang dimaksud dengan ketokohan Dzulkarain atau Alexander Dzulkarnain itu.

Tapi sejarah juga mencatat bahwa yang dimaksud dengan Dzulkarnain adalah seorang yang bernama Alexander the Great dan memang dalam sejarahnya dimulai dari Yunani (Macedonia). Ia melakukan penaklukan ke wilayah Afrika Utara, Asia sampai ke Cina. Dan sejarah yang diakui oleh PBB adalah faham yang menyatakan bahwa Alexander The Great ini adalah dari Macedonia, yang berarti dari kerajaan Bijantium Yunani. Kejadian itu berlangsung 500 tahun SM. Buktinya apa kok diakui dunia? Karena ia membawa ilmu pengetahuan ke Mesir, kemudian ia meninggalkan perpustakaan, buku-buku filsafat Yunani, dapat ditemukan di Alexandria.

Terdapat juga sejarah yang menyatakan, ketika Sayyidina Umar menaklukan Mesir di bawah Amr bin al-Ash, katanya ada buku yang dibakar, tapi sampai sekarang buku-buku itu masih banyak yang tersisa. Inilah sekarang yang ditetapkan oleh PBB sebagai perpustakaan Alexandria yang sampai hari ini masih berdiri. Dan inilah yang diakui oleh dunia, bukan informasi dari Hamdi Hamzah. Sementara Syaikh Mutawalli al-Sya’rowi tidak menentukan siapanya karena bukan menjadi fokus kajiannya. Wallahu a’lam.

Syukri Abubakar