STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Di sela-sela kesibukannya menuntaskan studi program doktor di Malang, Iskandar Dinata atau biasa disapa bang Parange menyisipkan waktu untuk menuangkan keresahannya atas kondisi sosial terkini tanah Bima dalam sebuah novel yang berjudul “MBOJO MA MBURE”.

Novel ini menarik dibaca dan dikupas, pertama karena diuraikan secara apik dalam bentuk cerpen dan ceritanya mengalir. Kedua, berisi kritik tentang kondisi sosial terkini tanah Bima, tanah kelahiran Beta. Ketiga, isu yang dikupas up to date sesuai dengan fakta sosial yang terjadi. Keempat, nilai-nilai filosofi Bima dikaitkan dengan isu yang dibahas.

Judul yang terpampang di muka juga menarik dibedah. Pemilihan kata “MBURE” pada judul novel tentu memiliki makna yang mendalam yang mewakili isi Novel. Kata “MBURE” dalam pemahaman awam saya, diartikan dengan lalai atau lupa. Ambil contoh, Rumah Si A kemalingan pada malam hari disebabkan ia lupa mengunci pintu pagar dan pintu rumahnya. Dalam kondisi demikian, ia akan bilang, “Ya Allah, saya lalai, tidak mengunci pagar dan pintu rumah”. “Ya Allah, waur mbure nahu wati kunciku  kuta ro ncai”.

Maka frasa “Mbojo Ma Mbure”, jika dimaksudkan seperti contoh di atas, dapat diartikan sebagai “Mbojo yang Lalai”. Maksudnya bisa daerah Bima atau orang Bima yang lalai. Atau mungkin ada makna lain yang dikehendaki oleh penulis, perlu diklarifikasi lebih lanjut.

Dilihat dari isinya mulai bab pertama hingga bab 12, menyuguhkan fakta-fakta sosial yang pernah terjadi di beberapa ikon sentral kota Bima seperti di lapangan pahlawan, Taman Ria, Amahami, Ule, La Wata, Jenamawa, perbatasan kota, hingga Kalaki.

Spot-spot strategis di atas menjadi areal terjadinya penyakit sosial di kota Bima. Lapangan pahlawan yang setiap harinya dibanjiri oleh masyarakat kota dan kabupaten, menurut penulisnya disalahgunakan sebagai tempat berjudi  ketika sore hari diadakan permainan vollyball. “Permainan ini tidak akan ada gairahnya jika tidak dibarengi dengan taruhan”, jelas penulis. Taruhan biasanya dilakukan oleh pemain dan penonton. (hal. 5).

Bagian kedua, berbicara tentang penyakit sosial perselingkuhan, aborsi akibat hubungan luar nikah, dan peredaran vidio porno yang sempat viral dengan seloroh ora ari ora atau tutu dae. (hal. 30-31).  Vidio porno yang beredar sekitar 6 vidio berdurasi pendek dan pelakunya dou mbojo asli. Penulis menuturkan, jika api maja labo dahu padam, maka mbuja labo duha yang menyala. Dan itulah realita yang penulis novel pernah temukan.

Bagian empat mengupas pesta maksiat yang pernah menghebohkan tanah Bima. Pesta tersebut menyuguhkan penari dengan kostum super seksi disaksikan oleh bejubel penonton yang datang dari berbagai penjuru tanah Bima. Dalam kondisi seperti ini, aroma minuman keras pun menyeruak, bercampur dengan bau keringat para penonton. (hal.58).  Tidak ketinggalan, Tramadol sebagai obat pereda nyeri pasien pascaoperasi, disalahgunakan untuk pesta mabuk-mabukan.

Spot-spot pinggir pantai seperti pantai Ule, Amahami, Lawata, Wadu Mbolo, Jenamawa, Oi Ni’u batas kota hingga pantai Kalaki tidak ketinggalan digunakan sebagai tempat mesum muda mudi yang sedang mabuk cinta. Tetiba malam minggu, jalanan pinggir pantai dijejeri oleh parkiran sepeda motor yang empunya entah kemana dan berbuat apa???.

Dalam catatan berikutnya, fakta sosial lain yang disuguhkan, venomena banci (LGBT), pesta narkoba, judi togel, judi kuda, pencurian sepeda motor, perkelahian antar mahasiswa, perkelahian antar kampung, aktivis malak pejabat, pembuatan skripsi oleh dosen dan lain-lain.

Tatkala mengurai persoalan pembuatan skripsi oleh dosen, ada salah satu point yang menarik diungkap, tentang judul skripsi. Di situ diceritakan, ketika mahasiswa ikut ujian skripsi dan ditanya oleh penguji tentang judul skripsinya, mahasiswa menjawab “Judul Skripsi saya: Tiga Juta”. Penguji terkejut mendengar jawaban mahasiswa. Para penguji saling memandang, mempertanyakan kira-kira apa maksud mahasiswa menjawab demikian. Mahasiswa melanjutkan, “tidak perlu bapak dosen bertanya tentang judul skirpsi saya karena dosen lebih mengerti judul dan isinya”.  Saya tegaskan bahwa judul skripsi saya adalah “Tiga Juta”. (h.124-125).

Paragraf ini membuka tabir mengenai venomena pembuatan skripsi oleh dosen yang marak terjadi. Tentu banyak alasan, mengapa dosen berani dan mau melakukannya. Alasannya; bisa alasan material, karena biaya pembuatannya lumayan menggoda, tiga juta satu judul, bisa juga alasan non material, misalnya mahasiswa yang bersangkutan sudah uzur, berumur, kuliah hanya untuk memiliki ijazah agar dapat sertifikasi guru, atau mahasiswa yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan akademik yang memadai sehingga tidak dapat menyusun tugas akhir.

Novel ini juga sedikit menyinggung isu terorisme, karena tanah Bima dikenal juga sebagai salah satu daerah yang menyumbang pelaku teror yang kerap terjadi di wilayah Nusantara. Termasuk peledakan bom yang pernah terjadi di pondok pesantren Umar Bin Khatab Sanolo, Bima yang dianggap sebagai basis pergerakan jaringan teroris. Bahkan baru-baru ini, 6 orang asli tanah Bima diamankan oleh densus 88 karena diduga kuat terkait jaringan Jama’ah Ansharud Daulah (JAD) Bima. (Kompas.com – 01/12/2019, 12:41 WIB).

Pernah suatu jum’at, seorang khatib utusan lembaga resmi pemerintah dipaksa turun mimbar oleh jama’ah karena materi khutbah yang disampaikan tidak sesuai dengan pemahaman mereka. Materi khutbah terlanjur dinilai mengagungkan pemerintah: thoguth.(h.117).

Akhirnya, dengan terbitnya novel bang Parange ini, setidaknya menyentil mereka pelaku amoral, pelaku tindak asusila, pelaku tindak kejahatan yang terlanjur mengiris tanah Bima agar segera sadar, insaf dan tobat sehingga Mbari-nya Dana Mbojo tetap terpelihara. Wallahu a’lam.

Syukri Abubakar