Beberapa hari lalu tidak sengaja menjumpai akun facebook bang Pena Bumi di beranda yang terpampang pamflet lomba puisi tingkat nasional yang di selenggarakan Kelbes KOFYB 20 dalam agenda hari kelahiran pancasila. Waktu itu terlintas satu keinginan untuk coba-coba terjun di perlombaan. Kebetulan minggu ini sedang belajar membaca puisi.

Sayangnya hati kecil minder dan kurang percaya diri dengan segala kemampuan ini. Satu hari saya teringan ibu Sekum HMPS Prodi Pai Stit Bima sekaligus Kabid Pengembangan Sumber Daya Internal (PESDI) Laskar Bima Craft Ningsrih, memiliki potensi besar di dunia kesastraan untuk bereksperimen dengan hal baru pada event national. Karena ini adalah perdana bagi kami Sekolah Tinggi Agama tentu kualitas belajar bukan profesional.

Sejak itu perempuan asli Ntobo yang kecil-mungil kota bima mulai membuat isi puisi dengan judul “Aku Telah Lahir ” Karya Ningsrih. setelah sebelumnya kesana-kemari saya antar di beberapa rumah guru “mursyid” nya.

Namun kendala jasmani menghalangi proses perekaman video mengulur waktu kami untuk merangkum dan menyelesaikan administrasinya, hingga satu hari sebelum di tutup pendaftaran kami mengirim videonya dan finish administration.

Mengingat lomba skala nasional tidak ada harapan bagi kami untuk masuk nominasi apalagi 10 besar, 3 besar apalagi juara 1. pasti ada banyak persaingan dan peserta yang lebih loyal dan perfect dari kami. namun slogan kami “penting tampil” dan bisa berkolaborasi visual bersama peserta dari berbagai daerah.

Tepat hari ini malam anugrah yaitu pengumuman kejuaraan peserta lomba di “Uma Ilo Peta”. Dari 115 peserta yang memdapatkan undangan hanya sepuluh besar. di buka dengan berbagai kegiatan dan di meriahkan oleh kalangan milenial dan penulis, novelis, media dan sastrawan Bima.

Mendengar pengumuman host di mulai dari juara 3 dan 2 adalah peserta lain, kami pesimis menutup mata dan introspeksi produk. Tidak ada harapan. Karena penguman peserta lomba juara satu telinga kami tidak terlalu menghiraukan hal itu.

Dua Host depan kami yang memberiman penasaran para tamu, tiba-tiba di kagetkan nama yang di sebut adalah “Ningsrih” sebagai pemenang lomba puisi tingkat nasional.

Seketika berubah jadi optimis dan dan lelah menjadi Lillah. Plakat penghargaan, sertifikat, buku puisi dan amplop kami bawa pulang dan tidar nyenyak dan pastinya besok kenyang. Yami-yamiiiiiiiii?

#Aina_Dengga_Baca_Labo_Tunti

 

“Ambrin”