STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Kamis, 6 Desember 2019, BEM STIT Sunan Giri Bima mengadakan diskusi budaya dengan mengangkat tema “Sejarah Kebudayaan Islam di Bima”. Pemantik diskusi dipercayakan kepada pegiat sejarah dan budaya Bima, Fahrurizki atau biasa di sapa bang Fahru atau Dae Fan.
Dalam paparannya bahwa dalam catatan sejarawan Bima menyebutkan Islam masuk Bima pada tahun 1609 M atau secara resmi pada tahun 1640 M. Padahal menurutnya, Bima sudah berhubungan dengan dunia Islam sejak tahun 1512 M.
Persentuhan Bima dengan dunia Islam tersebut, sambung Fahru, dilakukan melalui jalur perdagangan, yaitu perdagangan kuda dan pewarna (kayu soppeng) atau dikenal oleh orang Bima dengan kayu Suppa. Kedua komoditas dagang ini sangat dibutuhkan oleh Kekhalifahan Usmaniyah. Kuda Bima digunakan sebagai alat transportasi dan kuda tunggangan para prajurit kerajaan. Kuda Bima dianggap sebagai kuda yang kuat dan tidak rewel. Sementara kayu suppa digunakan sebagai pewarna pada kain.
Hubungan kedua pihak tidak hanya murni bisnis tapi diisi dengan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh para pedagang yang berasal dari kekhalifahan Usmaniyah. Karenanya, menurut Fahru, pada saat itu banyak masyarakat Bima di daerah pesisir yang tertarik masuk Islam.
Selanjutnya, pasca perang Gowa di Sulawesi Selatan dan perjanjian Bungaya tahun 1667 M, banyak orang Melayu keluar dari Sulawesi menuju Bima untuk mencari tempat tinggal baru. Merekalah yang membawa budaya Islam di tanah Bima dan mereka pula yang melakukan akulturasi budaya saat itu sehingga Islam dapat berkembang dengan baik di Bima.
Perkembangan Islam di tanah Bima diawali dengan pengislaman penguasa. Dengan Islamnya penguasa maka akan mudah mendakwahkan Islam kepada masyarakat karena pada saat itu, masyarakat sangat tunduk dan patuh pada raja. Apa yang diperintahkan raja, mereka akan mengukutinya walaupun ada sebagian yang menolak.
Terkait hal itu, ada tiga pioner yang menyebabkan Islamisasi bidang sosial politik berjalan lancar, yaitu adanya ritus-ritus tertentu yang diperkenalkan oleh pendakwah sehingga masyarakat tertarik dengan Islam, seperti maulid Nabi Muhammad Saw. yang dikemas dengan upacara Hanta UA PUA, ritus upacara Pernikahan Adat, Sholat Idul Adha dan Sholat Idul Fitri.
Selain ritus, ada juga gerakan lain yang dilakukan oleh pendakwah yaitu gerakan tarekat. Gerakan Tarekat ini dipelopori oleh ulama-ulama sufi yang pernah hidup di Bima. Banyak ulama tarekat Bima yang cukup disegani sehingga santrinya berdatangan dari berbagai wilayah, termasuk Sumbawa, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur.
Yang menarik dalam paparannya ketika dae Fan menguraikan panggilan khas masyarakat Bima untuk ulama. Menurutnya, istilah khas untuk ahli agama di Bima sebagaimana yang diterapkan oleh sultan Bima dahulu adalah “Lebe Dala”, “Lebe Nae” dan “Cepe Lebe”. Istilah Tuan Guru dan Kyai, menurutnya, merupakan istilah impor dari luar daerah.
Sultan dan para ulama memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengembangkan Islam di Bima sehingga nilai agama menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai agama yang mengakar kuat itu, lama kelamaan menjelma menjadi budaya masyarakat Bima. Terkait hal ini, menurut Fahru, melahirkan lima dasar keislaman di Bima, yaitu pertama, penyesuaian hukum Islam dengan Adat Bima “Mori madena dou mbojo edekaiku hukum Islam”, kedua, pemerintahan majelis kerajaan dengan unsur Islam, “Syara Dana Mbojo”, ketiga, sultan memperluas dan menyebarkan Islam atau pelita agama, “Hawo Ra Ninu”, keempat, merubah aksara lokal dengan arab melayu, “Bo Dana Mbojo”, kelima, menetapkan tiga hari raya besar Islam di Bima (Idul Fitri, Adha dan Maulid), “Rawi syara ma tolu kali sambaa.”
Selain itu, kesenian Islam juga berkembang di Bima, seperti kesenian Lenggo Melayu, Kesenian Hadrah, Kesenian Patu, Kesenian Mpama, Kesenian Gambo dan Lain-lain. Beberapa kesenian tersebut, masih dipraktekkan hingga saat ini, seperti kesenian Hadrah yang dipentaskan pada acara, “Suna Ro Ndoso”, dan kesenian Gambo pada acara tanam padi dan jagung. Kesenian-kesenian tersebut tersebar di seluruh tanah Bima, namun yang paling menonjol terdapat di wilayah Wawo, Lambitu dan Donggo. Wallau a’lam.
Syukri Abubakar dan Mulyadin


