Acara bedah buku karya terbaru Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag berjudul ” buku Dou Mbawa: Religiusitas, Sosial-Budaya Orang Bima di Pegunungan telah berhasil menggugah antusiasme para pembaca dan pecinta sejarah.
Buku yang ditulis oleh guru besar antropolog di UIN Mataram ini pun dinilai sukses menghidupkan suasana diskusi. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Senin, 8 Juli 2024, di auditorium STIT Sunan Giri Bima berlangsung meriah dan antusiasme yang tinggi di kalangan peserta .
Selain dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memiliki minat di bidang sejarah dan budaya Bima khususnya masyarakat Mbawa, acara ini juga dihadiri oleh Direktur La Rimpu Prof. Atun Wardatun yang merupakan istri Prof. Abdul Wahid
Dr. Mutawali, M.A (Ketua STIS Al-Ittihad Bima) didapuk oleh moderator sebagai pembedah pertama, dan pembedah kedua, Ilyas Yasin, M.Pd (Dosen Yapis Dompu).
Tujuan bedah buku ini untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang circle kehidupan masyarakat Donggo-Mbawa kepada akademisi dan masyarakat luas, serta sebagai salah satu bentuk apresiasi perguruan tinggi terhadap karya Prof. Wahid yang meneliti tentang kebudayaan lokal yang memberikan pemaknaan mendalam dengan pendekatan studi etnografis, kajian yang masih sangat langka di kalangan masyarakat Bima sendiri.
Dou Mbawa (Masyarakat kampung Mbawa) merupakan kampung yang menganut agama Islam, Kristen dan Parafu. Prof. Wahid secara sistematis berhasil mengurai dinamika masyarakat Dou Mbawa dalam menjaga dan merawat tradisi dari beragam tantangan dari luar (outsider) terhadap tuan rumah (Insider). Melalui kajian etnografis yang mendalam terhadap praktik budaya ritual pertanian (Raju), penulis menemukan bahwa Parafu “tidak benar-benar mati” dan Dou Mbawa senantiasa tetap bertahan dan beradaptasi dengan modernitas di sekitarnya.
Bedah buku Dou Mbawa, dimulai dengan sambutan Ketua STIT Sunan Giri Bima Irwan Supriadin, M.Sos.I, dan dipandu oleh Junaidin, M.Pd selaku Moderator yang dilanjutkan dengan ulasan oleh penulis dan 2 pembedah serta dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama.
Dengan acara bedah buku ini, diharapkan masyarakat dan kaum akademisi semakin memahami dan mencintai keberagaman kultur dan budaya yang ada di Bima serta termotivasi untuk terus belajar dan mengapresiasi karya-karya yang ada.


