NDEMPA : TRADISI GULAT YANG HILANG

Sebuah “tradisi” di Era 80-90an, di kampung Kami, sebuah kampung kecil, di sebuah masa yang jauh dari kata modern, dimana salah satu kriteria kemahiran dan keunggulan seorang anak laki-laki diukur dari kekuatan fisik untuk menaklukan lawan dengan cara bergulat untuk menumbangkan dan membantingnya di atas jerami. Teknik kuncian dan kemampuan Read more…

GURU NGAJI

Di masa lalu, guru ngaji memiliki strata sosial yang tinggi di tengah masyarakat kampung Kami. Rumah guru ngaji nyaris tidak pernah sepi karena selalu disesaki oleh anak-anak yang belajar mengaji, di samping itu juga sering dikunjungi oleh para orang tua yang sengaja datang mengantar ikan atau sayur-sayuran hasil pertanian untuk Read more…

UPGRADE KUALITAS DIRIMU

Berbicara tentang kualitas diri, siapapun akan setuju jika ini adalah syarat utama yang harus dimiliki jika hendak eksis di dunia kerja atau sekedar membentuk citra diri di masyarakat. Namun banyaknya persepsi membuat pertanyaan, “kualitas diri yang seperti apa yang saya miliki? Bagaimana cara memperbaikinya?”. Nah … Setidaknya ada 6 Cara Read more…

Bangsa Mongol dan Si Pengerat

  Siapapun akan bergidik ngeri jika membaca sejarah bangsa Mongol, sebuah bangsa yang di masa lampau terkenal haus darah. Mongol merupakan salah satu bangsa terkuat yang pernah ada dalam sejarah. Mereka Dikenal sebagai masyarakat pengembara dan nomaden, nenek moyang mereka adalah penjelajah daratan yang sangat tangguh. Ketangguhan yang ditopang oleh Read more…

GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING : AKSI DAN KOMPOSISI

Kapasitas pengakuan publik terletak pada kekuatan mamusia memenuhi semua kebutuhannya dalam berbagai wahana empirisnya baik secara formalitas lagi non-formal. Gerak dan suara itu otoritas yang tuhan perintahkan sebagai perioritas jangakaun setiap insan menjalani wahana duniawi bahkan itu penentu loyalitasnya berada pada dimensi ilahi, entah pangkuan tuhan atau kehinaan. Dalam perbendaharaan Read more…

SELAMAT HARI LAHIR NAHDATUL ULAMA KE – 96

Setibanya di Tebuireng, santri As’ad (KHR As’ad Syamsul Arifin Situbondo) menyampaikan tasbih yang dikalungkan oleh dirinya dan mempersilakan KH Muhammad Hasyim Asy’ari untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari KH Cholil Bangkalan Read more…