Masih ingat buku “Ndi Osu” milik ayahanda Sudirman Makka kemarin? Nah sekedar membuka buku ini, kita akan langsung dihadapkan dengan syair-syair yang punya makna nan mendalam. Dari syair-syair awal membukanya, terlihat sekali karakter yang dibangun di dalam buku ini mirip kehidupan Zuhud para sufi. Ah nampak khas bagi orang Bima. Bagian pertama sekali yang terlihat ketika saya membuka buk ini, titik fokus saya langsung tertuju pada syair ke 2 baris pertama pada halaman 32.

“MA CAUSI SARUMBU MU KADALEPU NGAHA RA NONO MU”

Kalimat ini mengandung nasehat untuk memilih dan memilah makanan serta minuman yang menjadi asupan gizi bagi tubuh kita. (Ngaha Ra Nono Ma Raso). Singkatnya pilihlah makanan yang halal dan jauhi yang haram. Setidaknya ada janji keselamatan dari Allah SWT untuk orang-orang yang menjaga isi lambungnya dari yang haram. Bahkan menurut pengalaman-pengalaman pelaku Zuhud, nasi se-butir yang masuk ke lambung kita bisa membuat kita bertahan dan tidak merasa lapar dalam 1 atau 2 hari. Yang intinya adalah itu rejeki yang halal dan kita paham secara filosofis dimana sebutir nasi itu ditempatkan. Wallahu a’lam.

“MA CAU SI NAWA MU, KADALEPU NGGAHI LABO RAWI”
Pada baris ke 2, kita dipinta untuk memilih dan memilah ucapan dan perbuatan kita kepada orang lain. Karena boleh jadi ucapan atau perbuatan yang dilakukan tanpa didasari dengan memikirkan siapa dan dampak apa yang dihasilkan dari laku itu mempengaruhi umur kita. Lah kok gitu? Islam mengajarkan kita untuk menjalin dan menjaga persaudaraan, maka dari itu sesama saudara kita harus pandai-pandai menjaga lisan dan laku kita. Tak jarang, teman bisa saling melukai karena tersinggung atas ucapan atau perbuatan.

“SIMPA NA WARA WALI NCAI SALAMA”
Dari nasehat-nasehat tersebut, kesemuanya mengandung ikhtiar kita untuk meraih jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Dari itu sahabatku, jika pangkat dan jabatan kita saat ini memungkinkan kita untuk melakukan korupsi atau mengambil dan mengkonsumsi sesuatu yang haram, tahanlah diri. Sesungguhnya boleh jadi kelak lambung kita akan menjadi neraka yang kita ciptakan sendiri. Dan jika posisi kita saat ini sanggup untuk merendahkan orang lain, maka tahanlah diri. Karena setiap sungai pasti bermuara ke laut. Dan setiap perbuatan tetap akan kembali pada diri kita. Ingat, Ras dan suku boleh beda, tapi darah tetaplah sama “MERAH”. Artinya mari saling menjaga, karena boleh jadi kita akan sama rasa, baik dalam posisi bahagia ataupun luka.

#STITBIMA


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *