Sebuah “tradisi” di Era 80-90an, di kampung Kami, sebuah kampung kecil, di sebuah masa yang jauh dari kata modern, dimana salah satu kriteria kemahiran dan keunggulan seorang anak laki-laki diukur dari kekuatan fisik untuk menaklukan lawan dengan cara bergulat untuk menumbangkan dan membantingnya di atas jerami.

Teknik kuncian dan kemampuan membaca gerakan lawan menjadi materi selingan di sela-sela relaksasi setelah bermain sepakbola plastik sembari menanti suara bedug Maghrib.

Tak ada dendam meskipun sering dibanting oleh lawan, karena kami dididik untuk sportif. tak ada senjata tajam yang digenggam, karena sepenuhnya dilakukan dengan tangan kosong.

Semua adalah bagian dari olah fisik yang oleh para tetua kami disebut dengan istilah NDEMPA, NDEMPA (jujur saya belum tau padanan bahasa Indonesia nya) adalah cara anak laki-laki di kampung Kami menyalurkan “energi kenakalannya”

“Perhelatan” NDEMPA yang paling ramai biasanya dilaksanakan setelah panen raya di saat anak-anak dan remaja laki-laki telah menyelesaikan seluruh pekerjaan di sawah.


Istilah Ndempa dalam tradisi di kampung kami tentu berbeda dengan istilah Ncao (berkelahi) yang dipahami oleh masyarakat secara umum.

Tradisi itu kini hilang ditelan zaman, anak anak milenial dikampung kami tidak lagi familiar dengan istilah NDEMPA, kini mereka lebih akrab dengan mobile legend dan free fire.

“Irwan Supriadin J”

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *