STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Salah satu program unggulan Pro 4 RRI Mataram adalah Obrolan Budaya. Budaya masyarakat NTB menarik untuk diperbincangkan karena masyarakatnya yang heterogen terdiri dari berbagai macam latarbelakang budaya, suku, dan agama.

Tentu sudah banyak pakar budaya tiap daerah yang dihubungi sebagai narasumber untuk membahas tema budaya masing-masing daerahnya.

Di Bima sendiri, bang Alan Malingi merupakan salah seorang narasumber yang sering dihubungi oleh Pro 4 RRI Mataram membincang budaya Bima dari berbgai aspeknya. Hal ini diketahui dari beberapa kali postingannya di laman Fb sebelum siaran langsung dilaksanakan.

Beberapa bulan lalu, saya pernah diinformasikan oleh bang Alan Malingi bahwa suatu saat nanti, saya akan dihubungi oleh penyiar Pro 4 RRI Mataram untuk dimintai kesiapan berbagi ilmu mengenal Aksara Bima.

Informasi tersebut saya sambut gembira karena usaha memperkenalkan dan membumikan aksara Bima di tingkat lokal Bima Dompu dan kancah regional NTB semakin terbuka lebar.

Senin, 2 Maret 2020, saya di WA oleh salah seorang penyiar Pro 4 RRI Mataram: “Selamat Sore Pak Doktor Syukri, sy S. Darita dari Pro 4 RRI Mataram. Mohon kesediaan Sbg narasumber Obrolan Budaya.Topik: Mengenal Aksara Bima. Kami hubungi nanti by phone Rabu, 4 Maret 2020, PKL.21.05 WITA s.d 22.00 WITA TKS”. WA tersebut saya jawab dengan, ok, terima kasih.

Sebelum siaran langsung dimulai, ia menghubungi lagi bahwa Obrolan Budaya akan segera dilaksanakn pada waku 21.10 Wita dan saya dimohon standby untuk menerima telpon dari penyiar.

Sesuai dengan tema dialog “Mengenal aksara Bima”, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputar awal mula munculnya aksara Bima, penemu aksara Bima, macam-macam aksara Bima, seberapa jauh masyarakat Bima mengenal aksaranya, pelestarian aksara Bima, maksud aksara Bima yang sempat hilang sebagaimana judul buku “Aksara Bima; Peradaban Lokal yang sempat hilang”, cara mengenalkan aksara Bima kepada generasi milineal, harapan-harapannya ke depan, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dari beberapa pertanyaan itu, saya berupaya menjawab sejauh yang saya ketahui tentang aksara Bima, penemuannya, pelestarian dan pengembangan hingga saat ini.

Dialog ini sendiri berjalan selama 1 jam yang diakhiri dengan pesan bagaimana agar aksara Bima ini dikenal luas khususnya oleh generasi milineal dan harapan-harapan ke depannya.

Saya katakan bahwa Bima dulu adalah sebuah kerajaan hebat yang memiliki peradaban yang ditunjukkan dengan adanya aksara Bima. Hal ini menunjukkan bahwa orang Bima sejak dulu sudah melek literasi dan visoner. Pencapain itu menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bima khususnya generasi milineal sehingga mereka tidak merasa rendah diri bahkan memiliki kepercayaan sejajar dengan daerah-daerah lain.

Oleh karenanya menjadi kewajiban bagi generasi milineal untuk mengenal, mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar aksara Bima tetap eksis dan lestari sampai kapan pun.

Mempelajari aksara Bima saat ini tidak sesulit jaman dulu, karena sudah dibantu oleh teknologi berupa aplikasi font aksara Bima yang dapat langsung diunduh melalui via internet sehingga dapat langsung digunakan untuk menulis di laptop dan hp.

Tidak ada lagi kata sulit, hanya sikap malaslah yang menghalangi!. Wallahu a’lam.

Syukri Abubakar


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *