STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA.  Sosialisasi kali ini difokuskan pada dua kecamatan diujung barat Kabupaten Bima, kecamatan Pekat Kabupaten Dompu dan Kecamatan Tambora Kabupaten BIma. Tim yang turun hanya enam orang, tiga orang dosen, Abd. Salam, M.Pd.I., Hermawansyah, M.Pd. dan Junaidin, M.Pd. didampingi oleh tiga orang mahasiswa kece, Irwan, Amrin, dan Indra. Ketiga orang mahasiswa tersebut, menurut Pak Hermawansyah, sebagai penunjuk jalan ke sekolah-sekolah yang akan dituju karena mereka bertiga berasal dari dua kecamatan tersebut.

Sosialisasi kali ini tidak melibatkan banyak personil karena kegiatan belajar mengajar di kampus yang sudah dimulai dan jarak tempuh yang lumayan jauh, sehingga panitia hanya menurunkan beberapa orang tim saja. Sosialisasi ini juga didukung oleh beberapa orang kepala desa yang tahun kemarin sudah berjanji akan membantu menyebarkan informasi tentang keberadaan kampus STIT Sunan Giri Bima.

Dari beberapa foto dan informasi yang disampaikan oleh tim melalui WAG kampus nampak sosialisasi kali ini memiliki banyak cerita. Dalam perjalan menuju Tambora, di tengah perjalan, motor salah satu tim mengalami gangguan sehingga harus di dorong beberapa kilo meter untuk mendapatkan perawatan. Demikian juga hujan deras terus mengguyur ketika mereka menelusuri jalan menuju Pekat dan Tambora. Untungnya sebagian besar jalan sudah diaspal hotmic.

Demikian juga terdapat jalan yang rusak karena salah satu jembatan penghubung rusak total karena diterjang banjir beberapa minggu yang lalu sehingga hanya bisa dilewati melalui jalan setapak yang mengharuskan salah satu penumpang turun berjalan kaki.

Sebagaimana yang diungkap oleh pak Irwan Supriadin J. dalam status facebooknya, ketika mengomentari foto yang dikirim oleh tim bahwa “kisah perjalanan itu bukan kisah sinetron dan bukan pula sedang dalam pencitraan, tapi kisah nyata sebuah perjuangan”, secuil kisah dari segudang cerita yang dirasakan oleh tim sosialisasi kampus saat menyisir 3 wilayah, kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Banyak sudah cerita suka duka yang mereka rasakan mulai dari perjalanan berangkat hingga sampai ke tempat tujuan yang dishare via WAG kampus.

Kunjungan tim kali ini tidak hanya tertuju pada sekolah-sekolah an sich tapi juga di setiap perkampungan rumah warga yang memiliki putra putri yang telah dan akan tamat belajar dari sekolah menengah atas. Barangkali ada di antara mereka yang tertarik melanjutkan studi di kampus STIT Sunan Giri Bima, (Kasimpadepa).

Rencananya, tim akan stay di Tambora selama satu pekan untuk menyusuri perkampungan yang jaraknya satu kampung dengan kampung lainnya lumayan jauh, namun karena saat ini bertepatan dengan musim hujan, maka tim tidak bisa banyak bergerak mengingat jalan menuju perkampungan sulit dijangkau oleh sepeda motor karena secara geografis wilayah pekat dan Tambora terdiri dari gunung, bukit, sungai dan ngarai, ditambah lagi jalan yang masih rusak.

Maka atas kondisi cuaca yang demikian ditambah persediaan yang menipis, terpaksa tim merubah rencana awal dengan memulangkan sebagian tim terlebih dahulu. Sekolah-sekolah yang belum sempat dikunjungi, akan didatangi oleh tim yang tersisa.

Oleh karena itu, orang-orang tangguh ini perlu diapresiasi oleh kampus STIT Sunan Giri Bima karena mereka berjuang tanpa mengenal lelah, demi kemajuan kampus STIT Sunan Giri tercinta. Harapannya, mudah-mudahan apa yang telah diperjuangkan mendapatkan hasil maksimal dan semoga Allah Swt. Dzat Yang Maha Mengetahui membalas setiap langkah dan niat baik kalian semua. Aaminn.

Syukri Abubakar dan Irwan Supriadin J.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *