Pagi ini ditemani Novel Populer karya Kang HABIBURAKHMAN EL SHIRAZY berjudul API TAUHID dan secangkir kopi rasanya begitu nikmat. Menyelami kisah-kisah heroik BADIUZZAMAN SAID NURSI yang begitu bersemangat dan berjuang di jalan dakwah. Sehingga akibat dari usahanya yang pantang menyerah, ia kemudian harus hidup dari penjara ke penjara. Dan dari penjara, rupanya ia melahirkan karya fenomenal RISALAH NUR atau RASA’ILUN NUR.

Baca juga tentang Mengenal BADIUZZAMAN SAID NURSI di http://stitbima.ac.id/blog/2018/11/membincang-seputar-ide-khilafah.html

Rupanya novel sejarah Api Tauhid memberi judul buku baru yang harus Stit Bima cari. Rumornya ia berjilid-jilid seperti karya sang Hujattul Islam Al-Ghazali dengan karangannya Ihya Ulumuddin.
Namun kita kembali pada BADIUZZAMAN yang mencoba menerapkan pendidikan integral dengan dalil Qur’an (Al-baqarah: 129, 151, al-Imran:164, dan al-Jumu’ah: 2) yang intinya pendidikan mengandung 3 aspek penting; tilawah, tazkiyah dan ta’lim.

#Pertama, Aspek Tilawah yang dimaksudkan oleh BADIUZZAMAN meliputi pengenalan, pemahaman, dan penghayatan ayat-ayat Allah). #Kedua, tazkiyah yang meliputi pembersihan hati dan penyucian jiwa. #Ketiga, Ta’lim yang meliputi pengajaran (al-Qur’an dan Al-hikmah) secara integral dan tidak dipisahkan. Hal ini dipercaya akan meniscayakan pendalaman ilmu pengetahuan dan kegunaannya. Dan puncak dari pendalaman ilmu pengetahuan tersebut akan bermuara pada ma’rifatullah. Kalau dalam istilah filsafat, BADIUZZAMAN ingin memadukan aspek Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.

Model pendidikan semacam inilah yang kemudian disebut-sebut membawa Islam pada puncak kejayaannya. Dan di Turki, usulan semacam ini ia kirimkan kepada raja, namun tidak dapat bertemu langsung. Lantas secara terbuka ia membuat surat terbuka di media massa yang berakhir dengan dirinya yang harus menekam di sel tahanan. Sultan Abdul Hamid II lebih memilih menerapkan model pendidikan barat yang kemudian melahirkan Young Turk Movement. Abdul Hamid II justru dilengserkan oleh pribadi hasil ciptaannya Mustafa Kemal Ataktur, dan sekaligus memusnahkan khilafah dan kejayaan Islam di bumi Turki. Selepas itu tidak ada lagi azan, al-Qur’an dan simbol-simbol Islam lainnya, Semua dilarang.

Baca juga tentang Hikayat Islam menurut BADIUZZAMAN SAID NURSI http://stitbima.ac.id/blog/2018/12/maqasidul-hayat-menurut-said-nursi.html

Dari kisah singkat ini, dapat diambil hikmah bahwa sebaik-baiknya pendidikan ialah pendidikan yang berlandaskan Agama. Sebab ketulusannya adalah ketulusan Allah, dan kebaikannya adalah kebaikan dari sisi Allah SWT. Pendidikan Modern saja justru akan melahirkan Ataktur-Ataktur lainnya. Kebaikan-kebaikan agama oleh BADIUZZAMAN SAID NURSI lalu ia ungkapkan lewat sebuat pesan pada mimbar Khotib yang ia tulis dan diteruskan secara sembunyi-sembunyi saat di penjara. Pesannya adalah ;
“Diantara yang paling penting yang telah aku pelajari dan aku dapatkan dari kehidupan sosial manusia sepanjang hidup adalah bahwa yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri” (BADIUZZAMAN dalam Api Tauhid)

Singkatnya konsep Islam yang ia bangun adalah Mengajak tanpa Memaksa, sehingga lebih mirip seperti kiprah KH. Hasyim Asy’ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Dan mungkin itu sebabnya di Indonesia kedua Ormas ini adalah Ujung Tombak Negara dan Bangsa. Jangan ilfil dengan pendidikan agama, karena yang Tulus tidak akan pernah Modus untuk membuatmu menjadi pribadi-pribadi yang lebih bagus.

Kategori: Buku

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *