Pagi ini Selasa, (23/03) saya memenuhi tugas, kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai seorang Dosen STIT Sunan Giri Bima. Kebetulan di kelas PAI 2 yang saya ampu bermaksud melakukan Ujian Tengah Semester. Mahasiswa seperti biasanya melakukan negosiasi tentang jumlah soal, hehe… saya jadi keingat perilaku saya sendiri di kelas yang sama sewaktu menempuh program Sarjana di STIT Bima. Mahasiswa memberikan tawaran jumlah soal mulai dari 3, 4 dan 5 nomor. Tetapi saya lebih memilih memilih memerikan soal hanya 2 nomor saya. Mahasiswa saya langsung kaget, kok sedikit sekali ustadz? Saya Cuma menjawabnya dengan senyuman.

Dua soal yang saya berikan rupanya dijawab oleh mahasiswa dengan cukup cepat, satu soal mengarah pada ruang lingkup Filsafat Ilmu, dan soal kedua diarahkan untuk melatih analisis mereka tentang Covid 19. Beragam jawaban bermunculan, terlihat sekali muncul jiwa-jiwa sosialis dalam diri mereka. Ada yang mengamati perkembangan covid 19, ada yang mengarah pada Teori Konspirasi, dan ada pula yang memandangnya sebagai contoh kasus saja.

Di kelas yang berbeda tepatnya semester PGMI 2 mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, diskusi berjalan cukup panas akibat kurangnya ketelitian pemakalah yang kurang jeli menganalisis pertanyaan dari audiens. Ditambah lagi penanya seperti menggunakan logika terbalik, menambah geram teman-temannya yang lain. Saya perhatikan raut wajah sebagian yang lainnya mulai lelah dan bosan. Hehe…

Seumpama kisah nabi Khidir dengan nabi Musa (lihat QS. Al-Kahfi: 62-78), rasanya kurang afdol jika dunia ini tidak punya indikator bayangan dari setiap penilaian di setiap sisinya. Singkatnya dibalik semua indikator penilaian soal UTS yang diberikan tersebut ingin melihat tiga hal dalam diri mahasiswa ;  Kesabaran, Ketelitian dan Konsistensi.

Kesabaran

Indikator bayangan pertama yang ingin diamati dari 2 soal terebut adalah mengamati “bagaimana kesabaran mempengaruhi tingkat ketelitian dalam proses analisis soal. Kesabaran berasal dari Kata sabar, dalam bahasa Arab diambil dari kata sobaro yasbiru, yang artinya menahan. Kesabaran (Menurut KBBI) dapat diartikan sebagai sikap tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati),  tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu. Dalam Islam sabar dianggap sebagai salah satu sebaik-baiknya penolong, seperti dalam firman-Nya; “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (QS. Az-Zumar: 10) Kata dicukupkan pada ayat tersebut tidak diragukan lagi adalah keutamaan orang sabar yang melingkupi dunia dan akhirat.

Ketelitian

Sebagai seorang akademisi, sikap teliti merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki. Ketelitian berpengaruh pada hasil analisis dalam setiap masalah. Karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang mahaiswa ideal adalah 1) beriman, 2) bersemangat, 3) banyak membaca, 4)  waspada, 5) memiliki orientasi yang jelas, 6) bermanfaat bagi orang lain, 7) pandai menyesuaikan diri, 8) peduli terhadap lingkungan, 9) berpikir jernih, 10) kreatif, 11) inovatif, 12) disiplin. 13) memiliki cita-cita yang tinggi, 14) berpendirian kokoh, dan 15) rendah hati. Sikap teliti setidaknya mewakili indikator nomor 4, 5 dan 9 bagi mahasiswa ideal.

Ketelitian sendiri berasal dari kata teliti, dalam Kamus Besar Bahasa Indoesia (KBBI) berarti cermat,  saksama, hati-hati, ingat-ingat. Sikap teliti dalam al-Qur’an termuat dalam salah satu ayat yang mengkisahkan Thalut dan tentaranya. (QS. Al-Baqarah: 249) Tingkat urgensi dari sebuah ketelitian tak dapat kita pungkiri lagi, harus  diperhatikan dalam memecahkan setiap masalah.

Konsisten

Konsisten dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek, selaras, sesuai. Adapun menurut Arianto konsistensi adalah keteguhan hati terhadap tujuan dan usaha atau pengembangan yang tak berkesudahan. Arianto juga menambahkan ada beberapa hal yang di butuhkan untuk menjaga konsistensi antara lain adalah motif, kesadaran dan introspeksi. (Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol 12, No. 1)

Berdasarkan penjelasan tersebut dapatlah kemudian dipahami bahwa konsistensi pada dasarnya merupakan sikap dari individu dalam menanggapi suatu hal tertentu yaitu sikap kemantapan dalam bertindak disertai dengan tujuan-tujuan yang terarah. Ketiga sapek tadi (sabar, teliti, konsisten) seyogyanya dimiliki oleh seorang mahasiswa. Karena sejauh yang diamati, hard skill dan soft skill tidak dapat dipisahkan. Dan ketiga aspek tersebut berdiri pada posisi soft skill, akan sangat apik merangkum kemampuan akademik lainnya. Sehingga di dunia kerja mahasiswa akan sangat mudah beradaptasi, seperti kriteria mahasiswa ideal lainnya.

J Junaidin

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *