Ngaji Online bersama Kyai Imam Ghazali Said (III):  Mengkaji Ashabul Kahfi dalam Qs. al-Kahfi

Ngaji Online bersama Kyai Imam Ghazali Said (III): Mengkaji Ashabul Kahfi dalam Qs. al-Kahfi

STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Pada pertemuan ke tiga ini, ngaji online Kyai Imam Ghazali memfokuskan kajiannya pada masalah Ashabul Kahfi. Namun dalam kitab Mu’jizatil Qur’an karya Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi tidak dijelaskan latar belakang mengapa Qs. al-Kahfi ini diturunkan.

Oleh karena itu, untuk menyempurnakan penjelasan kitab tersebut, Kyai Imam Ghazali mengutip beberapa literatur yang menjelaskan sebab-sebab diturunkannya Qs. al-Kahfi. Berdasarkan referensi tersebut Qs. al-Kahfi diturunkan di Makkah dilatari oleh adanya pertanyaan dari orang-orang musyrik Makkah. Mereka hendak mematahkan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. dengan berbagai cara. Salah satunya dengan meminta bantuan orang Yahudi di Madinah al-Munawarah.

Rombongan musyrik Makkah ini dipimpin oleh Nadhar bin Harist dan Uqbah bin Abi Mu’id. Mereka melapor kepada orang Yahudi di sana tentang aktifitas Nabi Muhammad Saw. yang mendakwakan tauhid, mengesakan Allah Swt. dan ajaran Islam lainnya. Menurut mereka, dakwah Nabi Muhammad Saw. ini menjadi ancaman agama pagan (syirik) mereka, maka harus ditolak.

Mendengar keluh kesah orang-orang Musrik Makkah ini, orang Yahudi Madinah memberi wejangan, tanyalah kepada Muhammad itu tiga hal. Pertama, tanyalah tentang beberapa pemuda yang bersembunyi di gua, bagaimana kisahnya. Kedua, tanyalah kepada Muhammad penakluk hebat yang bisa merambah dunia, itu siapa dan bagaimana. Ketiga, tanyalah tentang ruh. Jika Muhammad dapat menjawab dua pertanyaan pertama, maka dia adalah Nabi. Dan jika dia menjawab tentang ruh, maka dia bukan Nabi.

Maka Nadhar bin Harist dan Uqbah bin Abi Mu’id pulang ke Makkah dan segera menjumpai Nabi Muhammad Saw. untuk menanyakan ketiga pertanyaan tadi. Setelah diajukan kepada Nabi Muhammad Saw., maka Nabi Muhammad Saw. pun tidak bisa menjawabnya. Karena memang beliau buta huruf, tidak punya literatur dan tidak bisa membaca. Maka Nabi mengatakan bahwa ketiga pertanyaan itu akan dijawab besok malam. Jawaban Nabi tersebut tidak didahului dengan lafadh “insya Allah”, karena memang Nabi Muhammad Saw. belum diajari mengenai kata “insya Allah”.

Nabi Muhammad Saw. menjawab demikian karena menunggu wahyu dari Allah Swt., tapi keesokan harinya, wahyu tidak turun, oleh karena itu Nabi Muhammad Saw. merasa khawatir, takut dituduh macam-macam oleh orang-orang musyrik Makkah. Sampai tiga hari bahkan sampai satu minggu wahyu belum turun-turun. Baru minggu berikutnya, hari ke delapan, turunlah Qs. al-Kahfi yang di antaranya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Begitulah riwayat singkat latarbelakang turunnya Qs. al-Kahfi.

Hanya saja Qs. al-Kahfi menjawab pertanyaan tentang Ashabul Kahfi dan Dzulkarnain, sedangkan pertanyaan tentang ruh dijawab dalam Qs. al-Isra’ (17): 85.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Untuk pertanyaan tentang Ashabul Kahfi, Allah Swt. berfirman dalam Qs. al-Kahfi (18): 9-11,

أَمۡ حَسِبۡتَ أَنَّ أَصۡحَٰبَ ٱلۡكَهۡفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُواْ مِنۡ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا

  1. Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
  2. (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
  3. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

Ayat di atas hanya menjelaskan demikian itu, tidak dijelaskan secara detail tentang keberadaan Ashabul Kahfi. Beberapa studi atau beberapa kitab tafsir, juga tidak menjelaskan secara tegas, tidak menguraikan secara pasti siapa sebetulnya Ashabul Kahfi itu, kapan terjadinya dan di mana.

Beberapa studi dilakukan oleh para ulama, di antaranya Syaikh Muhammad Thahir bin Asur dalam kitab At-Tafsiru At-Tahrir wa At-Tanwir. Penjelasan Ibnu Asur dalam kitab ini hanya mengumpulkan dari beberapa pandangan ulama sebelumnya. Ia tidak berani menyimpulkan bagaimana. Namun dapat diringkas bahwa tempatnya itu, kemungkinan besar didasarkan pada penguasa ketika peristiwa Ashabul Kahfi itu terjadi, siapa penguasanya dan di mana.

Pusat kekuasaan ketika itu berada di kota Yerussalem, al-Quds. Dalam beberapa dekade, Yerussalem dikuasai oleh Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman atau orang Yahudi menamainya King Solomon. Setelah kekuasaan Yahudi ini berakhir, Yerussalem kemudian ditaklukkan oleh orang Yunani, Alexander The Great atau Iskandar Dzulkarnain pada abad ke 5 sebelum masehi.

Gelombang berikutnya, masuklah penguasa Persia yang menaklukan Yerussalem. Berikutnya, masuklah penguasa Romawi pada tahun 61 sebelum masehi sampai 40 Masehi.

Maka siapa Ashabul Kahfi itu sesungguhnya?. Berdasarkan penelusuran Kyai Imam Ghazali Said bahwa Ashabul Kahfi itu adalah pengikut Yesus Kristus yang diperkirakan pada masa kepemimpinan seorang berbangsa Romawi berpusat di Romawi Timur, Konstantinopel. Pada saat itu, bangsa Romawi menguasai wilayah Mesir, Tunisia dan semua Afrika Utara yang saat ini jadi dunia Arab, kira-kira abad pertama Masehi. Ketika itu bangsa Romawi tidak memeluk agama Kristen bahkan anti kristen dan bekerjasama dengan orang-orang Yahudi.

Ketika Yerussalem dikuasai oleh seorang raja Romawi bernama Diqyanus, memiliki panglima perang bernama Duqiyus, pengikut Nabi Isa As dikejar-kejar karena membela dan mempertahankan agamanya. Di antara mereka ada yang lari bersembunyi ke dalam kahfun, gua untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara raja Duqiyus. Kahfun artinya gua besar, sedangkan gua kecil dinamai ghar, gharu hiro’ gua hiro tempat Nabi Muhammad Saw. bertahannus. Beberapa studi memperkirakan kejadian itu berlangsung pada abad ke 2 sampai pertengahan abad ke 5 masehi. Pada rentang waktu itulah peristiwa Ashabul Kahfi ini terjadi.

Dari kisah Ashabul Kahfi yang tertera dalam al-Qur’an ini, kemudian banyak negara yang mengklaim bahwa gua Ashabul Kahfi itu ada di negaranya. Berdasarkan penelitian, orang datang ke Mesir itu ingin melihat mumi Fir’aun walaupun mereka tidak mengetahui hakekat Fir’aun sebenarnya yang merupakan gelar, tapi yang penting bagi mereka adalah ingin melihat secara langsung Fir’aun musuh nabi Musa itu, karena diceritakan dalam al-Qur’an.

Begitu pun yang terjadi dengan kisah Ashabul Kahfi, banyak negara yang mengaku bahwa gua Ashabul Kahfi ada di negaranya demi kepentingan kunjungan wisatawan. Ada yang di Tunisia, ada yang di Turki, pusat kerajaan Romawi, ada di Armenia, dan ada juga di Yordania. Tempatnya itu ada sekian banyak. Maka orang-orang berkunjung di situ karena ingin mengetahui atsar yang dikisahkan dalam al-Qur’an.

Saat ini, sedang marak dilakukan studi-studi tentang Ashabul Kahfi untuk memperkuat bahwa gua Ashabul kahfi yang dimaksud itu ada di negaranya masing-masing. Mereka menggunakan argumentasi bahwa klaimnya itu adalah yang benar. Wallahu a’lam.

Syukri Abubakar

COMMENTS