Sejarah Perkembangan Literasi di Tanah Bima

Sejarah Perkembangan Literasi di Tanah Bima

STIT SUNAN GIRI BIMA, KOTA BIMA. Situs Wadu Pa’a yang oleh sebagian sejarawan ditengarai dipahat oleh sang Bima, merupakan situs literasi paling tua di Bima karena aksara yang digunakan untuk menulis adalah aksara Jawa Kuno yang dipakai sejak abad ke 8 hingga 16 (Wikipedia Eksiklopedia bebas).

Demikian halnya situs wadu tunti yang saat ini sudah dapat dialihaksarakan. Rouffaer yang pernah berkunjung ke situs tersebut pada tahun 1910 M menegaskan situs tersebut diperkirakan ditulis pada abad ke 14. Adapun tokoh sentralnya adalah Siwa.

Naskah surat perjanjian antara raja Bima pertama Indra Zamrud dengan Ncuhi Dara yang diperbaharui penulisannya pada masa sultan Bima ke 12 Abdul Aziz Ma Wa’a Sampela pada Rabu, 8 Maret 1868 M, termasuk naskah tua. Namun sayangnya, naskah surat perjanjian yang pertama itu tidak ditemukan sehingga tidak diketahui aksara apa yang digunakan. Jika dikira-kira, bisa jadi aksara Jawa Kuno sebagaimana yang terdapat di Wadu Pa’a.

Adapun naskah surat pembaharuan perjanjian tersebut ditulis menggunakan aksara Arab Melayu dan masih tersimpan rapi oleh keluarga keturunan Ncuhi Dara disertai dengan sebilah keris yang bergambar sang Bima pada gagangnya serta sebuah kantong kecil yang dibungkus dengan kain putih yang sampai saat ini belum pernah dibuka sehingga isinya masih menjadi misteri.

Bo mencatat bahwa pada masa raja ke 7 Batara Mitra (diperkirakan abad ke X atau XI) pergi ke Jawa (ke kerajaan Medang, Mataram Kuno) kemudian menikah disana dan melahirkan anak yang bernama Manggampo Jawa. Setelah sang ayah, Batara Mitra meninggal dunia, Manggampo Jawa ke Bima untuk menjadi raja Bima ke 8 menggantikan posisi ayahnya. Ia membawa serta seorang cerdik pandai yang bernama Ajar Panuli untuk mengajarkan orang Bima cara membuat candi, batu bata dan baca tulis.

Mulai saat itulah barangkali masyarakat Bima mulai mengenal baca tulis, namun tidak ada keterangan yang jelas aksara apa yang dipakai, apakah aksara Jawa Kuno atau aksara Bima yang baru diciptakan, wallahu a’lam.

Pada masa pemerintahan raja ke 13 Ma Wa’a Paju Longge (abad XV) kerajaan Bima mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini berkat rajanya yang visioner, berpandangan luas, dan cakap dalam mengelola pemerintahan. Bahkan untuk kepentingan itu, ia mengutus secara khusus kedua adiknya Ma Wa’a Bilmana dan Ma Nggampo Donggo ke Kerajaan Manurung Sulawesi Selatan untuk mendalami tata kelola pemerintahan dan aspek-aspek kehidupan/hajat masyarakat Bima. (Pengantar Aksara Bima, hal. 10, 2019).

Dari rangkaian persentuhan ilmiah inilah barangkali yang mendorong orang Bima dulu menciptaan aksara Bima, sebagaimana dicatat oleh Thomas Stanford Raffles dalam lampiran 3a, 3b buku “The History of Java” (1817) bahwa Bima memiliki dua model aksara. Model aksara Bima yang tidak dipergunakan lagi dan aksara Bima yang merupakan turunan dari aksara bugis Makassar (lontara).

Keterangan tersebut diperkuat oleh St. Maryam R. Salahuddin dan L Massir bahwa aksara yang digunakan sebelum adanya perubahan ke aksara Arab Melayu adalah aksara Bima. Namun lagi-lagi, lembaran atau naskah yang ditulis dengan menggunakan aksara Bima lama, sangat sulit ditemukan barangkali sudah rusak atau sudah terbakar bersamaan dengan terbakarnya istana Bima dulu. Atau mungkin tersimpan di perpustakaan Jerman atau Leiden Belanda yang mengoleksi naskah-naskah kuno nusantara. Oleh karenanya, perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut.

Adapun naskah-naskah yang ditulis dengan aksara Bima turunan aksara bugis masih banyak ditemukan di Museum Samparaja Kota Bima yang sudah dilaminasi oleh tim perpustakaan Nasional Jakarta.

Setelah kemampuan baca tulis sudah dikuasai oleh orang-orang istana, maka diprakarsailah penulisan Bo, semacam catatan segala aktifitas yang dianggap penting oleh raja kerajaan Bima. Dalam Bo Sangaji Kai dijelaskan bahwa budaya penulisan Bo dimulai pada masa raja ke 18 La Mbila Rumata Tureli Nggampo Ma Kapirisolo (anak dari Bilmana raja ke 15). Menurut L Massir pada masa itu, Bo ditulis menggunakan aksara Bima lama di atas daun lontar.

Sementara pada masa raja Bima ke 22 Mantau Asi Sawo, anak dari ma Wa’a Ndapa, penulisan Bo bercampur antara aksara Bima dengan aksara Bugis Makassar. Penggunaan kedua aksara ini untuk penulisan naskah Bo Dana Mbojo dapat dimengerti karena hubungan antara kerajaan Bima dengan Sulawesi Selatan sudah lama terjalin.

Pada masa sultan ke 2 Abil Khair Sirajuddin, 15 Muharram 1055 H bertepatan dengan 13 Maret 1645 M, beliau memerintahkan penulisan Bo diganti ke Aksara Arab Melayu dan hanya bagian tertentu menggunakan bahasa Bima.

Mengingat umur Bo yang begitu lama dan kondisinya lapuk dan rusak, dilakukanlah upaya pelestarian dengan pembaharuan penulisan ulang Bo pada masa sultan ke 13 Ibrahim Ma Wa’a Halus (adik dari Abdul Aziz ma wa’a Sampela, 1881-1915 M) dengan raja Bicara Muhammad Qurais (1886-1917). Dan itulah penyalinan ulang yang terakhir yang kemudian pada masa-masa selanjutnya dilakukan perawatan dengan laminasi oleh perpustakaan Nasional Jakarta.

Q Massir menjelaskan bahwa pada tahun 1935, Bo aksara Bima dan aksara Bugis masih bisa dijumpai di Asi Mbojo, sebagian besar musnah terbakar pada tahun 1918 M.

Sekelumit Mengenai Bo

Kata Bo menurut Lalu Massir berasal dari bahasa Bima lama yang berarti “kumpulan naskah catatan kerajaan Bima tentang berbagai peristiwa dan keadaan yang menjadi pedoman masa selanjutnya”, terdiri dari silsilah kerajaan, perjanjian-perjanjian, hukum, pemerintahan, peraturan-peraturan adat istiadat, serta berbagai peristiwa yang menyangkut liputan kehidupan kerajaan Bima.

Terdapat empat jenis Bo, (Bo Dana Mbojo/Bo Istana Bima) di antaranya:
1.Bo Sangajikai, Bo yang ditulis atas perintah raja atau sultan oleh Bumi Parisi (juru tulis raja/sultan).
2.Bo Bicarakai, Bo yang ditulis atas perintah Rumabicara oleh Bumi Parisi Bicarakai. Bo ini ditulis lebih terperinci sampai hal-hal yang kecil
3.Bo Bumi Luma, Bo yang dipegang oleh Bumi Luma terkait dengan tugas Bumi Luma tentang Hukum Adat Tanah Bima, pelakunya, dan masalah peradilan kerajaan.
4.Bo Qadhi, Bo yang berisi seluruh kegiatan keagamaan di tanah Bima, seperti penyiaran Islam, pelaksanaan hukum Islam termasuk masalah peradilan yang terkait dengan agama Islam.

Ada juga Bo yang lain seperti Bo Melayu atau Bo penghulu, namun tidak dimasukkan dalam rangkaian Bo Dana Mbojo/Bo Istana Bima karena berisi hal-hal yang terait dengan keturunan Minang seperti aktifitas yang dilakukan oleh Datuk di Banta dan Datuk Di Tiro dalam menyebarkan agama Islam di Bima dan hal lainnya.

Hingga saat ini, dalam Bo Dana Mbojo, masih terselip beberapa kata dan kalimat yang menggunakan aksara Bima. Demikian halnya terdapat beberapa lembaran naskah dan satu buku utuh yang menggunakan aksara Bima turunan aksara Bugis, seperti buku yang membahas perkara sambea milik sultan pertama Abdul Kahir Ma Mbata Wadu. Wallahu a’lam.

Sumber rujukan
1.Lalu Massir Q. Abdullah, Mengenal BO Catatan Kuno Daerah Bima, Lengge, 2014
2.Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin, Sejarah Pemerentahan Adat Kesultanan Bima (Rekonstruksi Historis dari Naskah-naskah Kuno Peninggalan Kesultanan Bima), Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja Bima, 2014.
3.DF. Van Braam Morris, Kerajaan Bima (1886), Lengge, Juli 2014
4.Ahmad Amin, Sejarah Bima, Ruas, 2019.
5.Hj. Siti Maryam R. Salahuddin, dkk. Pengantar Aksara Bima, Ruas, 2019.
6.Tawalinuddin Haris, dkk., Kesultanan Bima Masa Pra Islam sampai masa Awal Kemerdekaan, Ruas, 2019.
7.Fahru Rizki, Historiografi Bima, Ruas, 2019.
8.Wikipedia Ensiklopedia Bebas

COMMENTS